Religiusitas Pancasila Menurut Notonagoro: Rekonstruksi Filosofis-Etis Untuk Penguatan Kohesi Nasional Di Era Kontemporer
DOI:
https://doi.org/10.26593/9kx6wm81Keywords:
religiusitas Pancasila, Notonagoro, tabiat saleh, tiga asas Pancasila, kohesi nasional, pendidikan karakterAbstract
Penelitian ini bertujuan merekonstruksi pemikiran Notonagoro tentang religiusitas Pancasila sebagai fondasi ontologis dan etis kehidupan berbangsa. Melalui analisis teks filosofis terhadap karya-karya utamanya—terutama Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara (1957) dan Susunan Filsafat Pancasila (1967)—penelitian ini mengungkap bahwa Notonagoro memahami religiusitas Pancasila bukan sebagai doktrin teologis eksklusif, melainkan sebagai dimensi transenden yang menyatu dengan jati diri bangsa melalui tiga asas integral: kultural, religius, dan kenegaraan. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” ditempatkan sebagai puncak hierarki nilai yang menghidupi seluruh sila lainnya, sekaligus berfungsi sebagai sumber legitimasi moral yang inklusif dan non-dogmatis. Lebih jauh, penelitian ini mengelaborasi konsep “tabiat saleh” sebagai aktualisasi moral religiusitas Pancasila dalam kehidupan sehari-hari—suatu disposisi etis yang menyeimbangkan ketaatan kepada Tuhan dan tanggung jawab sosial. Temuan menunjukkan bahwa pemikiran Notonagoro menawarkan landasan filosofis yang sangat relevan untuk memperkuat kohesi nasional, pendidikan karakter, dan dialog antarumat beragama di tengah polarisasi identitas dan disrupsi nilai di era digital.
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Yusuf Siswantara, Rintoni (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

